Istilah ‘exit strategy’ mungkin sudah banyak banyak Anda dengar di berbagai kesempatan. Tapi tunggu? Apakah Anda sudah benar-benar paham dengan pengertian ‘exit strategy’ atau Anda hanya berpura-pura sudah memahami?

Jika Anda malu bertanya dan tidak punya banyak waktu untuk melakukan riset kecil-kecilan untuk memahami apa itu ‘exit strategy’, anda bisa simak penjelasan singkat berikut ini.

Apa itu ‘exit strategy’?

Dalam penjelasan sederhana, exit strategy (harvest strategy atau liquidity event) ialah suatu metode yang digunakan oleh para pemodal ventura (venture capitalist) atau pemilik usaha yang berniat untuk keluar dari investasi yang telah ia telah laksanakan.

Dengan kata lain, exit strategy merupakan cara “menguangkan” sebuah investasi, layaknya Anda menarik uang dari rekening tabungan Anda di mesin ATM.

Contohnya termasuk pelaksanaan IPO atau penawaran saham perdana dengan menawarkan perusahaan agar dibeli oleh pebisnis yang bermodal lebih besar di industri yang dimaksud.

Dalam konteks seorang pedagang yang aktif, exit strategy bisa diartikan sebagai rencana mengenai kapan sebuah usaha akan ditutup.

Lebih sulit bagi seorang pemodal ventura (VC) atau entrepreneur untuk menarik uang dari investasi karena umumnya mereka harus berurusan dengan perusahaan-perusahaan swasta.

Saat sebuah usaha berstatus swasta/privat, sahamnya tidak bisa dijual semudah saat saham usaha itu masih diperdagangkan secara publik di pasar saham.

Maka dari itu, meskipun sebuah usaha rintisan swasta bisa jadi memiliki nilai setara dengan jutaan dollar AS, entrepreneur atau pemodal ventura hanya memiliki akses yang sangat sedikit menuju kekayaannya.

Anda bisa bayangkan exit strategy sebagai suatu peluang pertama untuk menukar sebuah aset yang tidak likuid dengan sebuah aset yang amat likuid. Aset likuid ini biasanya berupa uang tunai. (*/Akhlis)