Sudah tak terhitung banyaknya kasus, korban dan kerugian dari penipuan dengan modus investasi. Di kota besar atau di daerah terpencil, sama saja.

Meski begitu, baik pelaku maupun calon nasabah juga tidak serta merta jera. Tidak peduli orang miskin, tak berpendidikan bahkan terdidik, pejabat dan pengusaha, juga menjadi korbannya.

Lalu, bagaimana harusnya mengantisipasi jebakan penipuan bermodus investasi tersebut?

Berikut adalah tips dari financial planner dari perusahaan Financial and Business Advisory MRE, Mike Rini Sutikno :

Miliki pemahaman mengenai harta/kekayaan

Menurut Mike, umumnya korban paling banyak penipuan dengan modus investasi ini adalah orang-orang yang pola pikirnya tentang harta/kekayaan tidak sehat. Mereka ingin kaya dengan cepat tapi tanpa harus capek.

Melek finansial

Dengan melek finansial, kata Mike, akan terbentuk  sikap rasional dan peka terhadap potensi-potensi penipuan dalam berinvestasi.

“Bagaimana bisa mengatasi atau bersikap logis terhadap penawaran-penawaran investasi. Dengan melek finansial, akan terbiasa menganalisa dan tidak ‘membeli kucing dalam karung’,” jelas Mike.

Menurut Mike, melek finansial itu tidak ada begitu saja. Juga tidak akan didapat dari pelajaran di sekolah. Makanya, orang-orang terdidik, pejabat bahkan pengusaha pun bisa tertipu.

Identifikasi kewajaran penawaran

Penipuan bermodus investasi selalu dicirikan dengan iming-iming perolehan imbal balik yang biasanya tidak wajar.

Sebagai contoh, kata dia, dulu yang kasus Koperasi Langit Biru (KLB) itu menjanjikan imbal balik hingga 17% per bulan. Padahal, di bank-bank umum, bunga deposito di bawah satu tahun saja paling berkisar 4-8%.

“Cari patokan yang wajar, yang standar. Nah, kalau janji imbal baliknya sudah tidak wajar, itu pasti gak bener. Cuma memang, kalau orangnya kecenderungannya serakah, ya, diimingi begitu, langsung mau saja,” ujar Mike.

Identifikasi kewajaran biaya investasinya

Kalau normal, seperti halnya di bank-bank umum, biaya deposito itu kecil sekali. Demikian juga dengan saham atau tabungan yang hanya dibayar biaya administrasinya saja.

Sebaliknya, kalau penipuan, biaya administrasi investasinya biasanya tinggi. Bisa mencapai ratusan ribu. Menjanjikan ini dan itu tapi sebenarnya nasabahnya harus bayar dulu dengan cara yang lain.

“Pada penipuan bermodus investasi itu biasanya terjad akad ganda dan itu banyak gak diketahui nasabah. Jadi, ketika akan dapat sesuatu, maka dia wajib membayar dulu. Padahal janjinya itu bonus dan semacamnya,” jelas dia.

Waspadai penggunaan label keagamaan

Mike mengatakan, dari temuannya di lapangan, para nasabah KLB banyak yang tertarik berinvestasinya salah satunya karena melihat figur Ustad Komara, pendiri dan pemilik KLB.

“Jangan percaya iming-iming terkait keagamaan, terutama tokoh agama yang ngajak berbisnis. Kalau suatu urusan ditangani oleh yang bukan ahlinya, bisa dibayangkan akhirnya seperti apa,” kata dia.

Bahkan meski mungkin saja mereka punya keahlian untuk itu, tetap harus kritis dan tidak terbawa perasaan semata karena embel-embel keagamaan sebagai bumbunya.

Waspadai penawaran investasi yang bombastis

Penipuan bermodus investasi biasanya ditandai dengan iklan atau penawaran investasi yang bombastis. Di antaranya, soal bunga, imbal balik, baik dari segi jumlah maupun waktunya.

“Kalau di brosurnya atau iklannya sudah menyebut investasinya sebagai ‘satu-satunya yang ter…’ sebaiknya hindari saja,” jelas Mike.

Pastikan skema investasinya jelas

Banyak tawaran investasi yang ternyata bodong itu sebenarnya tidak jelas skema investasinya. Kalaupun ada, hanya dalam penjelasan atau di brosur. Calon nasabah harus memastikan skema investasinya seperti apa dan melakukan verifikasi.

“Dulu KLB itu ngakunya bisnis sapi. Tapi tidak jelas peternakannya dimana, jual sapinya dimana, rumah potongnya dimana,” tandas dia. (SPC-15)