Suatu hari seorang Steve – Wozniak, pada saat bermain-main di Homebrew Computer Club menemukan sebuah perangkat yang pada akhirnya menciptakan kata “Personal Computer.”

Steve yang lain – ya, kali ini adalah Jobs – kemudian tertarik untuk memasarkan perangkat itu, pertama-tama ia meminta bosnya pada saat itu di Atari, Nolan Bushnell, untuk mendanai dan ditolak mentah-mentah. Mike Markkula (eks Fairchilds dan Intel) melihat kesempatan dan mendanai Woz dan Jobs muda. Lalu dari situlah bisnis startup bernama Apple lahir.

Yang membedakan “startup” dengan sebuah perusahaan pada dasarnya adalah proses pembentukan perusahaan tersebut, paradigma umumnya adalah bahwa sebuah startup berangkat dari ide sedangkan perusahaan berangkat dari modal.

Paradigma ini diperkuat dengan sejarah kelahirannya Fairchilds, startup semi-conductor pertama di Amerika Serikat – mungkin dunia. Pendeknya Fairchilds lahir dari pembelotan 8 insinyur cerdas dari Shockley Semiconductor Laboratory dan menemukan Fairchilds Semiconductors dengan biaya dari Sherman Fairchild.

Komponen pembentuk startup maupun perusahaan adalah sama, yakni ide, skill, nyali, dan hoki. Komponen keberlangsungannya: modal dan beneficiaries.

Namun yang sangat sering menjadi anggapan orang adalah semua perusahaan adalah one man show – meskipun benar untuk beberapa perusahaan – banyak yang merupakan hasil dari kerja sama tim yang hebat.

Mitos one man show ini biasanya yang membuat sebuah usaha (baik startup maupun bukan) mandek, atau tidak bergerak ke mana-mana.

Rasanya seperti ada suatu budaya yang menjadi trend bagi pengusaha, di mana mereka menjadi terlalu takut untuk bersaing atau berbagi. Padahal komponen-komponen di atas biasanya tidak dapat dilaksanakan oleh satu orang saja.

Kebanyakan startup dengan segala idealisme dan semangat independennya terkadang merasa bahwa mereka bisa bergerak tanpa bantuan orang lain. Dan seringkali hal ini menimbulkan masalah pada akhirnya. (bn)